MANAJEMEN RESIKO PADA PENDIDIK (GURU) DILEMBAGA PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manajemen risiko
menjadi satu aspek penting dalam dunia pendidikan. Dengan lingkungan yang
dinamis dan berbagai tantangan yang dihadapi, sekolah dan institusi pendidikan
perlu strategi yang tepat untuk memitigasi risiko. Salah satu alasan utama
pentingnya manajemen risiko adalah untuk menjaga keselamatan siswa dan staf.
Lingkungan pendidikan harus aman dari berbagai ancaman seperti bencana alam,
kebakaran, atau bahkan ancaman kesehatan seperti pandemic. Siswa dan staf yang
merasa aman akan lebih fokus pada proses belajar-mengajar, menghasilkan mutu
pendidikan yang lebih baik.
Selain
keselamatan fisik, manajemen risiko juga mencakup aspek psikologis. Stres dan
tekanan di kalangan guru dan siswa dapat diminimalisir dengan strategi
manajemeyang baik. Misalnya, sekolah dapat mengadakan program dukungan
kesehatan mental dan pelatihan manajemen stres. Langkah-langkah ini membantu
menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan produktif.
Manfaat lain yang
sering terlupakan adalah peningkatan reputasi dan kepercayaan publik. Sekolah
yang memiliki manajemen risiko yang kuat sering kali mendapatkan kepercayaan
lebih tinggi dari orang tua. Ini membawa citra positif dan meningkatkan daya
tarik sekolah sebagai pilihan utama untuk pendidikan anak-anak.
Tidak kalah
penting adalah dampaknya terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Dengan
risiko yang terkelola, pengajar dapat fokus sepenuhnya pada pengembangan kurikulum
dan metode pengajaran. Ini memberikan ruang bagi inovasi dan peningkatan mutu
pendidikan yang akhirnya menguntungkan siswa.
Secara
keseluruhan, manajemen risiko dalam dunia pendidikan bukan sekedar prosedur
administratif, melainkan investasi jangka panjang. Dengan strategi dan praktik
terbaik, kita bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, efektif, dan
berdaya saing tinggi. Melalui penelitian ini, kita akan membahas secara rinci
berbagai strategi dan praktik terbaik dalam manajemen risiko pendidikan. Tujuan
akhirnya adalah memberikan panduan komprehensif yang bisa diimplementasikan
oleh berbagai institusi pendidikan.
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan gambaran jelas tentang pentingnya manajemen risiko
dan bagaimana implementasinya dapat membawa manfaat besar. Dengan pendekatan
yang terstruktur dan santai, semoga pembaca bisa memahami betapa pentingnya manajemen
risiko dalam dunia pendidikan. Kami mengajak pembaca untuk terus mengikuti penelitian
ini agar mendapatkan wawasan lebih mendalam dan relevan mengenai topik yang sedang
dibahas.
B. Rumusan
Masalah
1.
Pengertian dan konsep manajemen risiko dalam konteks
pendidikan?
2.
Bagaimana
strategi manajemen risiko dalam
pendidikan?
3.
Bagaimana Peran pimpinan lembaga pendidikan dalam
mendukung manajemen risiko bagi guru?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian dan konsep manajemen risiko
dalam konteks pendidikan.
2.
Untuk strategi
manajemen risiko dalam pendidikan.
3.
Untuk mengetahui peran pemimpin lembaga pindidikan dalam
mendukung manajemen risiko bagi guru.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Konsep manajemen resiko dalam
konteks pendidikan
Manajemen risiko
dalam pendidikan merupakan langkah penting untuk mengidentifikasi dan
mengendalikan potensi ancaman yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar[1]. Dalam konteks ini, para ahli memberikan berbagai definisi yang
memperjelas pentingnya upaya sistematis dalam memahami, mengevaluasi, dan
mengelola risiko Misalnya, Kaplan dan Norton menekankan bahwa manajemen risiko
pendidikan melibatkan penilaian terhadap berbagai ancaman, mulai dari risiko
fisik seperti kebakaran hingga risiko virtual seperti keamanan siber. Dengan
demikian, pendekatan ini memastikan lingkungan belajar yang aman dan mendukung.
berpendapat bahwa manajemen risiko harus dilakukan secara proaktif. Menurutnya,
cara ini memungkinkan lembaga pendidikan untuk lebih siap menghadapi
ketidakpastian dan potensi gangguan.[2] Berbagai risiko, baik yang bersifat internal maupun eksternal, perlu
diidentifikasi sedini mungkin agar dapat diatasi sebelum mengakibatkan kerugian
signifikan. Harland juga menyoroti pentingnya keterlibatan semua
pihak, termasuk
staf dan siswa, dalam proses manajemen risiko untuk menciptakan budaya sadar
risiko di sekolah.
Untuk
mengimplementasikan manajemen risiko secara efektif, berbagai metode diterapkan
oleh institusi pendidikan. Misalnya, pelatihan keselamatan rutin untuk staf dan
siswa dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan. Selain itu, peninjauan dan
pembaruan kebijakan keamanan secara berkala memastikan bahwa semua prosedur
masih sesuai dengan perkembangan terbaru dan tantangan yang ada). Penggunaan
teknologi juga tidak kalah penting,
terutama untuk meningkatkan keamanan siber dan mengelola data dengan lebih efisien.
Semua langkah ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih
aman dan kondusif.[3]
Pengalaman
lapangan juga menunjukkan bahwa keterbukaan informasi dan komunikasi yang baik
antara semua pihak di sekolah sangat penting dalam manajemen risiko. Ketika
semua individu merasa dilibatkan dan memahami risiko yang dihadapi, mereka akan
lebih siap dan responsif dalam menghadapi situasi darurat. Misalnya, mengadakan
simulasi evakuasi secara periodik dapat membantu semua orang mempelajari
langkah-langkah yang harus diambil saat keadaan darurat. Komunikasi yang
transparan juga memastikan bahwa informasi penting selalu tersebar dengan cepat
dan akurat.
Dalam konteks
global yang terus berkembang, manajemen risiko pendidikan perlu selalu
up-to-date dengan mendengarkan pandangan para ahli dan menerapkan praktik
terbaik. Dunia terus berubah, dengan munculnya berbagai tantangan baru yang
dapat mempengaruhi sistem pendidikan. Oleh karena itu, institusi pendidikan
harus siap beradaptasi dengan perubahan ini, baik melalui pembaruan kebijakan
yang kontinu maupun peningkatan kapabilitas staf. Panduan internasional seperti
ISO 31000 menjadi acuan penting dalam mengembangkan sistem manajemen risiko
yang komprehensif dan terpercaya.
Dapat kami
simpulkan bahwa manajemen risiko
dalam lembaga pendidikan bukan hanya
tentang menghindari masalah, tetapi juga tentang membangun sistem yang tangguh
dan adaptif. Dengan pendekatan yang terstruktur, proaktif, dan menyeluruh,
institusi pendidikan dapat memastikan bahwa mereka siap menghadapi berbagai
tantangan yang mungkin timbul. Hal ini tidak hanya penting bagi kelangsungan
pendidikan, tetapi juga untuk memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi semua
pihak yang terlibat. Ketika manajemen risiko dilaksanakan dengan baik,
lingkungan belajar yang aman dan kondusif dapat terwujud, mendukung pencapaian
tujuan pendidikan yang lebih tinggi.
B.
Strategi Manajemen Risiko Dalam
Pendidikan
Manajemen risiko
dalam dunia pendidikan merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan.
Melindungi proses belajar-mengajar dari berbagai hambatan menjadi prioritas
utama. Strategi-strategi yang bisa diterapkan dalam manajemen risiko di bidang
pendidikan dengan cara yang sederhana, jelas, dan terstruktur, yaitu:
1.
Identifikasi Risiko
Langkah pertama dalam manajemen risiko adalah
mengidentifikasi berbagai potensi risiko yang ada dan mungkin muncul. Risiko
bisa berasal dari berbagai sumber seperti masalah keamanan, kesehatan, atau teknologi.
Melakukan identifikasi dini memungkinkan pihak sekolah atau lembaga pendidikan
untuk lebih siap dalam mengambil langkah-langkah selanjutnya. Dengan mengetahui risiko yang
ada, tindakan preventif bisa segera dirancang dan diterapkan dengan efektif.
2.
Analisis Risiko
Setelah
mengidentifikasi risiko-risiko potensial, tahap berikutnya adalah menganalisis
dampak dari masing-masing risiko tersebut. Penting untuk mengetahui seberapa
besar risiko tersebut dapat memengaruhi kegiatan belajar mengajar. Analisis ini
membantu pihak sekolah atau pengelola pendidikan untuk menentukan prioritas
dalam penanganan risiko. Analisis mendalam juga membantu dalam merancang
strategi mitigasi yang lebih tepat sasaran.
3.
Pengembangan Rencana Mitigasi
Tahap
selanjutnya adalah menyusun rencana mitigasi untuk mengurangi atau bahkan
menghilangkan risiko yang telah diidentifikasi. Misalnya, memperbarui sistem
keamanan untuk mencegah gangguan keamanan atau memberikan pelatihan kesehatan
kepada siswa dan staf untuk mencegah penyebaran penyakit. Rencana mitigasi
harus jelas, rinci, dan mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat. Dengan
adanya rencana yang baik, proses penanganan risiko akan menjadi lebih terarah
dan efektif.
4.
Implementasi Rencana
Setelah rencana
mitigasi disusun, langkah berikutnya adalah implementasi dari rencana tersebut.
Pastikan seluruh staf dan siswa mengetahui dan memahami rencana mitigasi serta
peran mereka masing-masing dalam menjalankan rencana tersebut. Komunikasi yang efektif
sangat penting pada tahap ini untuk memastikan bahwa semua pihak mengetahui apa
yang harus dilakukan dan kapan harus dilakukan. Implementasi yang baik akan
membantu dalam mengurangi risiko secara signifikan.
5.
Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan
berkelanjutan terhadap implementasi rencana mitigasi sangat penting untuk
memastikan keefektifannya. Evaluasi secara rutin memungkinkan pihak sekolah
atau pengelola pendidikan untuk melakukan penyesuaian strategi jika terdapat
perubahan situasi atau muncul masalah baru. Dengan melakukan pemantauan dan
evaluasi, risiko-risiko yang ada dapat ditangani dengan lebih tepat waktu dan
efektif. Evaluasi juga memberikan kesempatan untuk memperbaiki kelemahan yang
mungkin ada dalam rencana mitigasi.
6.
Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan
pelatihan untuk staf dan siswa mengenai manajemen risiko merupakan langkah
penting lainnya. Pelatihan bisa dilakukan melalui seminar, workshop, atau
latihan simulasi. Dengan pendidikan yang memadai, baik siswa maupun staf akan
lebih siap menghadapi risiko yang mungkin terjadi. Pelatihan juga membantu
dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam menangani situasi darurat.
Ini akan membuat lingkungan pendidikan menjadi lebih aman dan kondusif untuk
belajar.
7.
Keterlibatan Stakeholder
Untuk menjalankan
proses manajemen risiko dengan baik, keterlibatan semua stakeholder-mulai dari
orang tua, komunitas, hingga pemerintah daerah-sangat diperlukan. Dukungan
penuh dari semua pihak membantu dalam pelaksanaan dan perbaikan strategi
manajemen risiko. Melibatkan stakeholder dalam proses ini memastikan bahwa
semua pihak memiliki pemahaman yang sama dan bekerja sama dalam menciptakan lingkunganbelajar
yang aman dan efektif. Dengan adanya keterlibatan penuh, tantangan dalam
manajemen risiko dapat diatasi dengan lebih mudah dan solusi yang dihasilkan
akan lebih komprehensif.
Manajemen risiko dalam pendidikan memerlukan pendekatan
sistematis dan berkelanjutan. Dengan mengidentifikasi, menganalisis, dan
mengelola risiko secara proaktif, institusi pendidikan dapat memastikan
lingkungan belajar yang aman dan efektif. Implementasi strategi ini diharapkan
dapat membantu meminimalkan risiko dan menghadirkan solusi yang efektif bagi
lembaga pendidikan.[4]
Dapat kami simpulkan bahwa Strategi Manajemen Risiko Dalam Pendidikan dunia
pendidikan sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan
kondusif. Dengan menerapkan langkah-langkah sistematis mulai dari identifikasi
hingga keterlibatan semua stakeholder, institusi pendidikan dapat
mengantisipasi dan mengelola berbagai potensi risiko secara efektif. Pendekatan
ini memungkinkan penanganan risiko yang tepat waktu dan berkelanjutan, sehingga
proses belajar-mengajar dapat berlangsung tanpa hambatan signifikan dan memberikan
perlindungan optimal bagi siswa, staf, dan seluruh komunitas pendidikan.
C. peran pemimpin lembaga pindidikan dalam mendukung manajemen risiko bagi
guru
Pimpinan lembaga
pendidikan, seperti Kepala Sekolah atau Direktur, memegang peranan kunci
sebagai manajer risiko yang bertugas menetapkan fondasi dan kerangka kerja
formal bagi manajemen risiko di institusi. Peran ini mencakup identifikasi,
pengukuran, dan pengendalian risiko yang melekat pada aktivitas guru, seperti
risiko keselamatan siswa, pelanggaran etika digital, atau potensi tuntutan
hukum[5]. Pimpinan wajib menyusun kebijakan
risiko yang jelas dan terstruktur, kemudian mengintegrasikannya ke dalam
perencanaan strategis lembaga. Lebih jauh, pimpinan bertanggung jawab
menumbuhkan budaya sadar risiko dan keterbukaan, mendorong guru untuk melaporkan
potensi insiden atau ancaman baru tanpa rasa takut. Hal ini krusial agar risiko
dapat diminimalisir bahkan dihilangkan sejak dini sebelum berkembang menjadi
krisis yang mengganggu proses belajar-mengajar[6].
Setelah kerangka kerja ditetapkan, pimpinan wajib
menyediakan sumber daya fungsional yang mendukung guru dalam melaksanakan
mitigasi risiko. Dukungan ini diwujudkan melalui pelatihan berkelanjutan
mengenai isu-isu risiko kontemporer (misalnya keamanan siber, privasi data, dan
penanganan kasus bullying), yang membantu meningkatkan kompetensi SDM guru
dalam menghadapi ketidakpastian[7]. Selain itu, pimpinan harus memastikan
tersedianya Prosedur Operasi Standar (SOP) yang detail dan mudah diakses
sebagai panduan respons cepat terhadap insiden, sekaligus mengalokasikan
anggaran yang memadai untuk investasi perlindungan fisik dan digital. Contoh
konkretnya termasuk penyediaan subsidi kuota saat pembelajaran daring atau
pengurangan beban tugas yang berlebihan untuk mengurangi risiko burnout dan
kesalahan profesional[8].
Peran pimpinan yang tak kalah penting adalah memberikan
perlindungan aktif dan jaminan dukungan kepada guru, sehingga mereka dapat
mengajar dengan rasa aman. Hal ini mencakup penyediaan dukungan hukum dan
perlindungan reputasi yang wajar bagi guru yang menghadapi masalah atau gugatan
selama mereka bertindak sesuai dengan koridor profesionalisme dan kebijakan
yang ditetapkan. Selain itu, pimpinan wajib memastikan manajemen risiko adalah
proses yang berkelanjutan dan dinamis[9]. Pimpinan harus rutin melakukan
evaluasi dan tinjauan kembali terhadap rencana manajemen risiko yang ada,
mengumpulkan umpan balik dari para pendidik, dan menyesuaikan strategi secara
responsif terhadap perubahan lingkungan, teknologi baru, atau regulasi pemerintah,
sehingga langkah-langkah pengendalian risiko selalu optimal dan relevan bagi
para guru.
Peran pimpinan lembaga pendidikan (kepala
sekolah/madrasah) sangat krusial dalam mendukung manajemen risiko (MR) bagi
guru, karena pimpinan berfungsi sebagai nahkoda yang menentukan arah,
memfasilitasi sumber daya, dan membangun budaya kerja yang adaptif dan aman.
Penerapan manajemen risiko di sekolah bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengendalikan potensi ancaman yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar,
termasuk yang berdampak langsung pada kinerja dan kesejahteraan guru.
Peran Pimpinan Lembaga Pendidikan dalam Mendukung
Manajemen Risiko bagi Guru
1. Menetapkan Konteks dan Membangun Budaya Sadar Risiko
Pimpinan lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk
menetapkan konteks manajemen risiko, yang mencakup pemahaman kondisi sekolah
dan kriteria untuk mengevaluasi risiko, serta struktur analisisnya. Peran utama
lainnya adalah menciptakan budaya dan suasana kerja yang kondusif dan positif,
yang mendorong setiap guru untuk termotivasi dan berupaya meningkatkan
keterampilan mereka, serta bersikap proaktif terhadap potensi masalah.[10]
2. Identifikasi dan Analisis Risiko yang Berdampak pada Guru
Pimpinan harus memimpin proses identifikasi risiko yang
spesifik, terutama yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar dan
profesionalisme guru, seperti risiko terkait kelengkapan administrasi guru,
pemilihan dan penggunaan metode, media pembelajaran, atau risiko yang timbul
dari pemahaman siswa yang beragam dan keterbatasan sarana. Setelah
diidentifikasi, pimpinan bersama tim perlu menganalisis dan mengevaluasi risiko
untuk menentukan prioritas penanganan dan dampak potensialnya pada tujuan
sekolah, termasuk potensi kerugian yang disebabkan adanya risiko.[11]
3. Pengembangan dan Fasilitasi Respon Risiko
Pimpinan berperan dalam memilih dan menerapkan
langkah-langkah pengelolaan risiko yang tepat, mulai dari penghindaran,
pencegahan, pengurangan, hingga penerimaan risiko, serta membuat rencana
manajemen risiko untuk setiap kategori. Secara spesifik untuk guru, pimpinan
harus memfasilitasi berbagai kesempatan pengembangan keprofesian yang relevan,
seperti pelatihan dan workshop, untuk meningkatkan keterampilan guru,
memperbarui pengetahuan, dan mengimplementasikan praktik terbaik dalam
pengajaran, yang secara langsung mengurangi risiko kegagalan atau
ketidakefektifan pembelajaran.[12]
4. Supervisi, Pendampingan, dan Evaluasi Berkelanjutan
Pimpinan lembaga pendidikan memiliki peran sebagai supervisor dan pendamping bagi guru. Kepala sekolah harus secara berkala melakukan pendampingan melalui kunjungan kelas untuk mengamati langsung proses pembela jaran, termasuk dalam pemilihan metode dan media, untuk mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan guru. Selain itu, pimpinan harus memberikan umpan balik yang konstruktif dan mengevaluasi kinerja guru secara teratur dan berkelanjutan. Fungsi pengawasan ini dapat dipandang sebagai bentuk dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang lebih baik. Proses evaluasi manajemen risiko harus dioptimalkan untuk memastikan rencana dan prosedur yang diterapkan (seperti Standar Operasional Prosedur/SOP dan kelengkapan perangkat pembelajaran) efektif dalam mengatasi hambatan dan risiko yang dihadapi guru dan siswa.[13]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen risiko dalam konteks pendidikan merupakan suatu proses
sistematis dan terstruktur untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola
risiko yang dapat mempengaruhi tujuan pendidikan. Risiko dalam pendidikan dapat
berupa risiko keselamatan, risiko keuangan, risiko reputasi, dan lain-lain.
Oleh karena itu, manajemen risiko dalam pendidikan sangat penting untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi dampak negatif dari risiko yang
dihadapi.
Strategi manajemen risiko dalam pendidikan dapat dilakukan dengan
beberapa cara, seperti mengidentifikasi risiko, menilai risiko, mengembangkan
rencana manajemen risiko, dan mengimplementasikan rencana tersebut. Selain itu,
pimpinan lembaga pendidikan juga dapat mengembangkan kebijakan keselamatan
kerja, menyediakan pelatihan bagi guru dan staf, serta meningkatkan kesadaran
akan pentingnya manajemen risiko. Dengan demikian, manajemen risiko dapat
membantu meningkatkan keselamatan dan kualitas pendidikan di lembaga
pendidikan.
Pimpinan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung
manajemen risiko bagi guru. Mereka dapat menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan untuk mengelola risiko, seperti anggaran, peralatan keselamatan, dan
sumber daya manusia. Selain itu, pimpinan lembaga pendidikan juga dapat
meningkatkan kesadaran akan pentingnya manajemen risiko dan mengembangkan
budaya keselamatan di lembaga pendidikan. Dengan kerja sama yang erat antara
pimpinan lembaga pendidikan dan guru, strategi manajemen risiko dapat diimplementasikan
secara efektif dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Oleh
karena itu, manajemen risiko merupakan aspek penting dalam meningkatkan mutu
pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiana, Lubis, R. F., Suharyadi, M. R., Utami, E.
Y., & Sipayung, B. (2023). Manajemen Risiko dalam Ketidakpastian Global:
Strategi dan Praktik Terbaik. Jurnal Bisnis Dan Manajemen West Science, 2(3)
Cahyono,
A. (2022). Manajemen Kepemimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan Budi
Mulia Dua
Culinary
School Yogyakarta Sebagai LKP Berbasis Dunia Usaha dan Dunia Industri.Media
Manajemen Pendidikan, 4(3), 374–385.
Hadi, R. (2023). Implementasi Strategi Manajemen
Kelas yanImplementasi Strategi Manajemen Kelas yang Efektif dalam Meningkatkan
Pembelajaran di Sekolah Dasarg Efektif dalam Meningkatkan Pembelajaran di
Sekolah Dasar. JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala, 8(2)
Herdiman. (2020). Manajemen Risiko dan Inovasi
Pembelajaran. Jurnal
Administrasi Pendidikan, 24(2).
Miftahuldzanah,
W. N., & Hidayat, W. (2024). Implementasi Manajemen Risiko Dalam
Peningkatan Efektivitas Pembelajaran DI SMKN 4 BANDUNG. ASCENT: Al-Bahjah Journal
of Islamic Education Management, 2(2)
Munawwaroh,
Z., Syarif, U., & Jakarta, H. (2017). Analisis Manajemen Risiko pada
pelaksanaan program pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Jurnal
Administrasi Pendidikan, 24(2)
Musnaeni,
M., ABIDIN, S., & PURNAMAWATI, P. (2022). Pentingnya manajemen strategi
Dalam meningkatkan kualitas pendidikan. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 2(2)
Nisa,
D. R., Indrayanti, S., Sukataman, S., & Nurhakim, I. (2022). Kepemimpinan
Kepala Sekolah Dalam Lembaga Pendidikan di MI Ma’arif NU Karangsari. An-Nidzam:
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Studi Islam, 9(2)
Sudarmanto,
Eko. (2020). Manajemen Risiko. Yogyakarta: Deepublish.
Suriyadi & Azmi. (2022). Penerapan Manajemen
Risiko dalam Lembaga Pendidikan. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. (2017).
Manajemen Risiko Lembaga Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Tadbir : Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, Vol. 4,
No. 2 (2020). Studi kasus: Peran Kepala MTs N 1 Kota Yogyakarta dalam
Pembelajaran Daring Masa Pandemi Covid-19.
Komentar
Posting Komentar