KONSEP PENYUSUNAN, PERUMUSAN, KOORDINASI & EVALUASI SARANA & PRASARANA

BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Latar belakang dari konsep perencanaan sarana dan prasarana berangkat dari kebutuhan manusia untuk mendukung aktivitas sehari-hari secara efektif dan efisien. Sarana dan prasarana merupakan elemen penting yang tidak hanya berfungsi sebagai penunjang kegiatan, tetapi juga sebagai faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu program, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, maupun pembangunan infrastruktur. Tanpa adanya perencanaan yang matang, penyediaan sarana dan prasarana dapat menjadi tidak tepat guna, sehingga menghambat pencapaian tujuan yang diharapkan.

Selain itu, perkembangan jumlah penduduk, pola aktivitas, serta tuntutan kualitas hidup yang semakin tinggi mendorong pentingnya perencanaan sarana dan prasarana yang berkesinambungan. Misalnya, pertumbuhan kota dan peningkatan mobilitas masyarakat memerlukan pengelolaan transportasi publik, ruang terbuka, serta fasilitas umum yang sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana harus selaras dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat memberikan manfaat maksimal serta menghindari pemborosan sumber daya.

Konsep perencanaan sarana dan prasarana juga dilatarbelakangi oleh peran pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan yang teratur, aman, dan berdaya saing. Melalui perencanaan yang terstruktur, dapat ditentukan prioritas pembangunan, alokasi anggaran, serta pemanfaatan lahan dan teknologi secara tepat. Dengan demikian, perencanaan sarana dan prasarana tidak hanya sekadar penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga sebuah strategi jangka panjang untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Latar belakang dari konsep perencanaan sarana dan prasarana berawal dari kebutuhan manusia untuk memiliki fasilitas yang mampu menunjang berbagai aktivitas, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, maupun pembangunan infrastruktur. Sarana dan prasarana yang direncanakan dengan baik akan membantu meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta kualitas pelayanan bagi masyarakat. Tanpa adanya perencanaan yang matang, penyediaan sarana dan prasarana berpotensi tidak tepat sasaran, tidak termanfaatkan secara optimal, bahkan dapat menimbulkan pemborosan sumber daya.

Selain itu, perkembangan jumlah penduduk, urbanisasi, serta tuntutan akan peningkatan kualitas hidup mendorong perlunya perencanaan sarana dan prasarana yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Perencanaan ini tidak hanya berfungsi sebagai penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga sebagai strategi dalam mengelola sumber daya, mengatur tata ruang, serta menetapkan prioritas pembangunan. Dengan demikian, latar belakang perencanaan sarana dan prasarana sangat erat kaitannya dengan upaya menciptakan lingkungan yang tertata, aman, serta mampu mendukung pembangunan jangka panjang dan kesejahteraan masyarakat.

 

B.     Rumusan Masalah

 

Rumusan masalah dari konsep perencanaan sarana dan prasarana berfokus pada bagaimana penyediaan fasilitas dapat sesuai dengan kebutuhan, tujuan, serta perkembangan masyarakat. Permasalahan utama biasanya muncul ketika terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan sarana dan prasarana dengan jumlah pengguna, kurangnya efektivitas dalam pengelolaan, serta minimnya perencanaan yang berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena itu, rumusan masalah ini penting untuk memastikan agar perencanaan yang dibuat tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika jangka panjang :

 

1.      Bagaimana Hakikat Perencanaan Sarana dan Prasarana?

2.      Bagaimana Pentingnya Perencanaan Sarana dan Prasarana?


3.      Bagaimana Substansi Perencanaan Sarana dan Prasarana?

4.      Bagaimana Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah yang Efektif?

5.      Bagaimana Mekanisme Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah?


BAB II

PEMBAHASAN

A.     Hakikat Perencanaan Sarana dan Prasarana

 

Menurut Ibrahim Bafadal dalam bukunya yang berjudul Manajemen Perlengkapan sekolah mendefinisikan perencanaan perlengkapan sekolah sebagai “suatu proses memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas sekolah, baik yang berbentuk sarana maupun prasarana sekolah dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu”.[1] Hal yang sama dikatakan oleh Wahyu Sri Ambar perencanaan sarana dan prasarana sebagai “keseluruhan proses perkiraan secara matang rancangan pembelian, pengadaan, rehabilitasi, distribusi sewa atau pembuatan peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan”.[2] Sedangkan Menurut Jame J. Jones “perencanaan sarana dan prasarana atau perlengkapan pendidikan disekolah diawali dengan menganalisis jenis pengalaman pendidikan yang diberikan di sekolah itu”.[3]

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka pemakalah dapat menarik kesimpulan bahwa perencanaan sarana dan prasarana sekolah adalah suatu proses analisis dan penetapan kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembelajaran sehingga muncullah istilah kebutuhan yang diperlukan (primer) dan kebutuhan yang menunjang. Tujuan yang ingin dicapai dengan perencanaan sarana dan prasarana tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan. Oleh karena itu, keefektifan suatu perencanaan sarana dan prasarana sekolah tersebut dapat dinilai atau dilihat dari seberapa jauh pengadaanya itu dapat memenuhi kebutuhan perlengkapan di sekolah dalam periode tertentu. Apabila pengadaan sarana dan prasarana itu benar-benar sesuai dengan kebutuhannya, berarti perencanaan sarana dan prasarana sekolah itu benar-benar efektif.

Dalam menjalankan tugas pengelolaan sarana dan prasarana, manusia dituntut untuk bekerja secara profesional, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan. Namun demikian, proses pengelolaan sering kali dihadapkan pada tantangan, keterbatasan, dan kondisi yang tidak ideal. Oleh karena itu, sebagai insan yang beriman, penting bagi setiap pengelola sarana dan prasarana untuk menyandarkan usaha kepada Allah SWT, sembari menjalankan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan penuh ketelitian dan kesungguhan. Sebagai pengingat dan penguat hati dalam menghadapi berbagai amanah dan tanggung jawab tersebut, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ "

Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa:) "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebuah amanah, termasuk dalam manajemen sarana dan prasarana, diberikan bukan untuk membebani, tetapi untuk dijalankan sesuai kemampuan manusia. Maka dari itu, setiap proses perencanaan, pengadaan, pemeliharaan, hingga pengembangan sarana dan prasarana perlu dilakukan dengan pendekatan profesionalitas, kejujuran, dan perbaikan berkelanjutan. Dengan memohon ampunan, bimbingan, dan pertolongan Allah SWT, diharapkan setiap langkah pengelolaan dapat memberikan manfaat yang luas, meningkatkan kualitas layanan, serta menjadi amal jariyah yang bernilai di sisi-Nya.

Dalam proses perencanaan harus dilakukan dengan cermat dan teliti baik berkaitan dengan karakteristik sarana dan prasarana yang dibutuhkan, jumlahnya, jenisnya dan kendalanya (manfaat yang didapatkan), beserta harganya.


B.     Pentingnya Perencanaan Sarana dan Prasarana

 

Perencanaan dipandang penting dan diperlukan bagi suatu organisasi antara lain dikarenakan :

1.      Dengan adanya perencanaan diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditunjukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.

2.      Dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai potensi-potensi perkembangan tetapi juga mengenai hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat diatasi sedini mungkin.

3.      Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara yang terbaik.

4.      Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas, memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran, maupun kegiatan usahanya.

5.      Dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.[4]

Hal yang sama dikatakan Soeparto M. perencanaan diperlukan didalam organisasi bahwa rencana merupakan :

1.      Alat efesiensi dan alat untuk mengurangi biaya.

2.      Alat pengarahan kegiatan kepada pencapaian tujuan.

3.      Pembentuk masa datang dengan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi seminimal mungkin.

4.      Alat-alat untuk memilih alternatif cara terbaik atau kombinasi alternatif cara terbaik.

5.      Alat penentuan skala prioritas dari pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan.

6.      Alat pengukur atau standar untuk pengawasan dan penilaian.

 

Sedangkan manfaat perencanaan yaitu “Dapat membantu dalam menentukan tujuan, meletakkan dasar-dasar dan menetapkan langkah-langkah, menghilangkan ketidakpastian dan dapat dijadikan sebagai suatu pedoman atau dasar untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan bahkan juga penilaian agar nantinya kegiatan berjalan dengan efektif dan efisien”.[5]

C.     Substansi Perencanaan Sarana dan Prasarana

 

Substansi perencanaan sarana dan prasarana terdiri dari tiga kata yaitu substansi perencanaan, substansi sarana dan substansi prasarana.

1.      Substansi perencanaan

Perencanaan bila dilihat dari waktunya dibedakan menjadi tiga yaitu “Perencanaan jangka pendek, Perencanaan Jangka menengah dan Perencanaan jangka panjang”.

a.         Perencanaan jangka pendek

Perencanaan jangka pendek yaitu perencanaan tahunan atau perencanaan yang dibuat untuk dilaksanakan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, sering disebut sebagai rencana operasional. Perencanaan ini merupakan penjabaran dari rencana jangka menengah dan jangka panjang.

b.         Perencanaan jangka menengah

Djokroamidjojo dan Mustopadidjaya mengatakan bahwa perencanaan jangka menegah memberi cukup waktu untuk memperhitungkan tingkat pelaksanaan rencana dan memperkirakan pemupukan sumber-sumber pembiayaan pembangunan. Perencanaan jangka menengah mencakup kurun waktu pelaksanaan 5 sampai 10 tahun. Perencanaan ini penjabaran dari rencana jangka panjang, tetapi sudah lebih bersifat operasional.

c.         Perencanaan jangka panjang

Menurut Stoner dan Wankel perencanaan jangka panjang merupakan suatu proses pemilihan tujuan, penentuan kebijaksanaan, strategi, sasaran, dan program untuk mencapai tujuan jangka panjang. Perencanaan jangka panjang meliputi cakupan waktu di atas 10 tahun sampai dengan 25 tahun.[6]

2.      Substansi Sarana

Sarana atau fasilitas dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu “Failitas Fisik dan Fasilitas Uang”.

a.          Fasilitas Fisik

Fasilitas fisik yaitu segala sesuatu yang berupa benda atau alat yang dapat dibendakan yang berfungsi untuk memudahkan dan melancarkan suatu usaha. Contoh: Perabot Ruang Kelas, Perabot Kantor, Alat- alat Pelajaran, Perabot Laboratorium, dan lain sebagainya.

b.         Fasilitas Non Fisik

Fasilitas non fisik yaitu sesuatu yang bukan benda mati, atau kurang dapat disebut benda atau dibendakan, yang  mempunyai  peranan  untuk memudahkan atau melancarkan sesuatu usaha, seperti manusia, jasa dan uang. Sedangkan bila tinjau dari fungsi dan peranannya dalam proses belajar mengajar, maka sarana sekolah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu “Alat Pelajaran, Alat Peraga, dan Media Pengajaran.

Dalam prakteknya, alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran sering dicampur adukkan, disebabkan karena memang wujud dari ketiganya kadangkadang sama. Sebuah benda mungkin dapat disebut sebagai alat pelajaran sekaligus sebagai alat peraga,begitu pula benda lain pada suatu saat menjadi alat pelajaran tetapi disaat yang lain berubah fungsi menjadi alat peraga. Oleh karena itulah ketiga macam golongan tersebut akan diuraikan masing-masing sehingga dapat dilihat perbedaannya.

1)      Alat Pelajaran

Alat pelajaran adalah alat atau benda yang dipergunakan secara langsung oleh guru maupun murid dalam proses belajar mengajar. Alat pelajaran dapat berupa buku-buku, baik buku-buku diperpustakaan maupun buku yang terdapat dikelas sebagai buku pegangan guru ataupun buku pelajaran untuk murid, alat-alat praktek yang terdapat didalam laboratorium, alat-alat olahraga maupun kesenian, alat tulis menulis dan sebagainya. Penggunaan alat pelajaran ini dapat digunakan oleh banyak murid secara bersama-sama atau kelompok, seperti papan tulis, bola dan sebagainya. Sedangkan alat- alat dapat dibagi atas beberapa kelompok menurut bidang studi yang terdapat dalam kurikulum suatu sekolah, misalnya alat-alat untuk pelajaran Matematika, IPA, IPS, Kesenian, Olahraga, Agama, Bahasa dan Keterampilan.

2)      Alat Peraga

Alat peraga adalah “alat yang digunakan oleh pengajar untuk mewujudkan atau mendemonstrasikan bahan pelajaran guna memberikan gambaran yang jelas tentang pelajaran yang diberikan”.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah sebuah alat bantu yang fungsinya antara lain mempermudah tenaga pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya sehingga dapat dimengerti. Dilihat dari cara penggunaannya, alat peraga dapat dibedakan menjadi: Alat peraga langsung yaitu alat peraga yang terdiri atas benda aslinya, pengalaman sendiri dan alat peraga yang melalui benda yang sebenarnya yang dapat dikenal segala macam aspeknya dan alat peraga tidak langsung, yaitu alat-alat peraga yang pemakaiannya tidak menggunakan benda-benda aslinya, tetapi dengan menggunakan cara lainnya.

3)      Media Pengajaran

Menurut Marshall Mcluhan, yang dikutip oleh Harjanto bahwa media adalah “suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya untuk mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia”.

Dengan adanya media pendidikan maka fungsi dan peranannya bukan sekedar membantu proses belajar mengajar saja, tetapi dapat juga digunakan untuk mengantikan kehadiran guru didepan kelas. Yang termasuk kedalam media pengajaran adalah alat-alat yang digunakan dalam pengajaran umumnya, antara lain buku-buku. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan teknologi, yang dimasukan kedalam media pendidikan hanyalah alat-alat pelajaran yang bersifat elektronis saja. Media pengajaran dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu : “a). Media audio (media untuk pendengaran), b). Media visual (Media untuk pengelihatan), dan c). Media Audio visual (media untuk pendengaran dan penglihatan)”. Ketiga media ini merupakan sebagai alat bantu untuk memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dari keseluruhan jenis-jenis sarana tersebut, hal yang paling penting adalah bagaimana mengatur sarana yang ada menjadi sumber daya materiil yang bermanfaat bagi proses pencapaian tujuan pendidikan.[7]

Sedangkan bila ditinjau dari sifat barangnya, sarana dapat dibedakan menjadi dua yaitu” Sarana sekolah yang bergerak dan Sarana sekolah yang tidak bisa bergerak”.

1)      Sarana sekolah yang bergerak

Sarana sekolah yang bergerak yaitu sarana sekolah yang bisa digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Contoh : Almari arsip sekolah, Bangku sekolah dan sebagainya. Sarana sekolah yang bergerak dikelompokan menjadi:

a)      Sarana sekolah yang habis dipakai. Sarana sekolah yang habis dipakai yaitu segala bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Contoh : Kapur tulis atau spidol yang biasa digunakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran, bahan kimia yang sering digunakan oleh seorang guru dan siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

b)      Sarana sekolah yang tahan lama (tak habis pakai)

Sarana sekolah yang tahan lama (tak habis pakai) yaitu keseluruhan bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus menerus dan dalam waktu yang relatif lama. Seperti: Kursi, meja, papan tulis dan sebagainya.

2)      Sarana Sekolah yang tidak bisa bergerak.

Sarana Sekolah yang tidak bisa bergerak yaitu semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan. Contoh: Suatu sekolah yang telah memiliki saluran dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Semua peralatan yang berkaitan dengan itu, seperti pipanya yang relatif tidak mudah untuk dipindahkan ke tempat- tempat tertentu.

c.          Substansi Prasarana

Ary H.Gunawan mengklasifikasikan prasarana sekolah menjadi dua macam yaitu “Prasarana sekolah yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar dan prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar”.16

1)      Prasarana sekolah yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, dan ruang laboratorium.

2)      Prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.[8]

 

D.     Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah yang Efektif

Perencanaan yang efektif adalah ketika apa yang dirumuskan ternyata dapat direalisasikan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Perencanaan yang tidak efektif adalah ketika apa yang telah dirumuskan dan ditetapkan ternyata tidak berjalan dalam implementasi, sehingga tujuan organisasi menjadi tidak terwujud. Untuk mengetahui apakah perencanaan itu efektif atau tidak dapat dijawab melalui pertanyaan-pertanyaan dasar perencanaan yaitu “What, Where, When, How, Who, Why”.17

Berikut ini masing- masing penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan dasar perencanaan diantaranya :

1.   What (apa)

Kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

2.  Where (Dimana)

Dimana kegiatan hendak dilaksanakan. Where adalah mengenai dimana kegiatan tersebut akan dilaksanakan. Pertanyaan ini mencakup tata ruang yang disusun, tempat yang akan digunakan, tempat perhimpunan alat-alat serta perlengkapan lainnya.

3.  When (Kapan)

When adalah kapan kegiatan tersebut akan dilaksanakan dan kapan kegiatan tersebut harus dimulai dan diakhiri. Hal ini berarti harus tergambar sistem prioritas yang akan digunakan, penjadwalan waktu, target, fase-fase tertentu yang akan dicapai serta hal-hal lain yang berhubungan dengan faktor waktu. Rencana kebutuhan dibuat untuk jangka waktu pendek, menengah dan panjang.

4.  How (Bagaimana)

Bagaimana cara melaksanakan kegiatan kearah tercapainya tujuan? Yang dicakup pertanyaan ini menyangkut sistem kerja, standar yang harus dipenuhi, cara pembuatan,dan penyampaian laporan, cara menyimpan dan mengolah dokumen-dokumen yang timbul sebagai akibat pelaksanaan.

5.   Who (Siapa)

Pertanyaan who terkait dengan siapa yang akan melaksanakannya. Berarti dalam hal ini siapa yang bertanggung jawab atas kegiatan yang akan dilaksanakan.

 

6. Why (Mengapa)

Pertanyaan Why terkait dengan pertanyaan seputar mengapa tujuan tersebut harus dicapai dan mengapa kegiatan yang terumuskan dalam jawaban atas pertanyaan What perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.[9]

Sedangkan Husaini Usman mengatakan agar perencanaan menghasilkan rencana yang baik, konsisten dan realistis maka kegiatankegiatan perencanaan memerhatikan :

1.      Keadaan sekarang (tidak dimulai dari nol, tetapi dari sumber daya yang sudah ada).

2.      Kebersihan dan faktor-faktor kritis kebersihan.

3.      Kegagalan masa lampau.

4.      Potensi, tantangan, dan kendala yang ada.

5.      Kemampuan merubah kelemahan menjadi kekuatan, dan ancaman menjadi peluang analisis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats atau SWOT).

6.      Mengikutsertakan pihak-pihak terkait.

7.      Memerhatikan komitmen dan mengkoordinasikan pihak-pihak terkait.

8.      Mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi, demokratis, transparan, realistis, dan praktis.

9.      Jika mungkin mengujicobakan kelayakkan perencanaan.

Perencanaan sarana dan prasarana yang efektif adalah kepala sekolah serta wakil kepala sekolah yang membidangi sarana dan prasarana melibatkan guru untuk bekerjasama dalam upaya mengefektifkan program sekolah, dan memprakarsai program perubahan melalui usaha kolektif bersama guru dengan garis besar tujuan yang telah ditentukan. Selain kepala sekolah selaku administrator sekolah bertanggung jawab atas sarana dan prasarana, guru juga dituntut untuk memikirkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah. Perencanaan sarana dan prasarana menuntut keterlibatan guru karena semua barang yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar harus sesuai dengan rancangan kegiatan belajar mengajar.[10]

E.     Mekanisme Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah

Suatu kegiatan manajemen yang baik harus diawali dengan suatu perencanaan yang matang dan baik pula demi menghindari kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan. Perencanaan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Kebutuhan akan sarana dan prasarana di sekolah haruslah direncanakan. Sebagai manajer pendidikan, kepala sekolah haruslah mempunyai proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana untuk jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek.

Proyeksi kebutuhan akan sarana dan prasarana sekolah dibuat dengan mempertimbangkan dua aspek, ialah kebutuhan aspek pendidikan di satu pihak dan kemampuan sekolah di pihak lain. Perencanaan sarana dan prasarana sekolah yang dikerjakan oleh tenaga perencana sekolah, akan dapat menggambarkan perencanaan sarana dan prasarana yang baik dan akuntabel, maka sekolah sebagai institusi pendidikan dalam membangun sumberdaya manusia akan dapat mencapai tujuan sekolah. Sesuai dengan fokus pemakalahan yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka penulis disini akan memfokuskan bahasan mengenai:[11]

1.         Penetapan orientasi dalam perencanaan sarana dan prasarana sekolah.

2.         Analisis rencana kebutuhan dalam perencanaan sarana dan prasarana sekolah.

3.         Penetapan program kebutuhan sarana dan prasarana dalam perencanaan sarana dan prasarana sekolah.

4.         Kendala dan upaya dalam proses perencanaan sarana dan prasarana sekolah.


BAB III

 PENUTUP

A. Kesimpulan

 

Kesimpulannya, hakikat perencanaan sarana dan prasarana adalah proses sistematis untuk menentukan kebutuhan, tujuan, serta langkah- langkah strategis dalam penyediaan fasilitas yang mendukung berbagai kegiatan. Pentingnya perencanaan ini terletak pada perannya dalam memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang tepat guna, efektif, serta efisien, sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan baik di bidang pendidikan maupun pembangunan masyarakat secara umum. Substansi dari perencanaan ini menekankan pada kesesuaian antara kebutuhan, kemampuan sumber daya, serta tujuan yang ingin dicapai agar fasilitas yang disediakan benar-benar bermanfaat.

 

 Dalam konteks sekolah, perencanaan sarana dan prasarana yang efektif harus memperhatikan relevansi dengan kebutuhan pembelajaran, keterjangkauan, serta daya dukung terhadap perkembangan peserta didik. Mekanisme perencanaannya meliputi identifikasi kebutuhan, penentuan prioritas, penyusunan rencana kerja, hingga evaluasi secara berkala agar fasilitas yang ada selalu sesuai dengan perkembangan kurikulum dan teknologi. Dengan mekanisme yang jelas, sarana dan prasarana sekolah dapat dimanfaatkan secara optimal, menunjang kualitas pendidikan, serta memberikan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa dan tenaga pendidik.


DAFTAR PUSTAKA

 

Astuti, Mardiah, Icha Suryana, Putri Dea Novita, Emiliya Emiliya, Lina Sari, and Rani Oktapiani. “Perencanaan Sarana Dan Prasarana Pada Lembaga Pendidikan.” Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Budaya 1, no. 4 (2023): 1–12.

Boko, Yusri A. “Perencanaan Sarana Dan Prasarana (Sarpras) Sekolah.” Jurnal Pendidikan Dan Ekonomi (JUPEK) 1, no. 1 (2020): 44–52.

Indrawan, Irjus. Pengantar Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah. Deepublish, 2015.

Jamil, Fatkhur Rohman, and Akhmad Ramli. “Konsep Dasar Administrasi Pendidikan, Fungsi Dan Ruang Lingkupnya,” 2023.

Nugroho, Agung, and Ade Evriansyah Lubis. “Manajemen Pengelolaan Sarana & Prasarana Keolahragaan.” JSH: Journal of Sport and Health 3, no. 2 (2022): 40–53.

Parid, Miptah, and Afifah Laili Sofi Alif. “Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan.” Tafhim Al-’Ilmi 11, no. 2 (2020): 266–75.

Rohiyatun, Baiq, and Luluin Najwa. “Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Di PAUD.” Jurnal Visionary: Penelitian Dan Pengembangan Dibidang Administrasi Pendidikan 9, no. 1 (2021): 1–5.

Sa’ud, Udin Syaefudin, and Abin syamsuddin Makmun. “Perencanaan Pendidikan: Suatu Pendekatan Komprehensif,” 2007.

Suranto, Dwi Iwan, Saipul Annur, and Afif Alfiyanto. “Pentingnya Manajemen Sarana Dan Prasarana Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.” Jurnal Kiprah Pendidikan 1, no. 2 (2022): 59–66.

SYAHPUTRI, FINA. “Konsep Manajemen Sarana Prasarana Dan Keuangan Anak Usia Dini,” n.d.

Yulyanti, Depi, S KM, and M KES. “KONSEP DASAR.” Perencanaan Dan Evaluasi Kesehatan 2024, 2024, 233.

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUKUAN ANGGARAN PENDIDIKAN

STRATEGI PEMASARAN DAN PENENTUAN HARGA JASA

SEPUTAR INFO PENDIDIKAN