KONSEP PENYUSUNAN, PERUMUSAN, KOORDINASI & EVALUASI SARANA & PRASARANA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Latar belakang dari konsep perencanaan
sarana dan prasarana berangkat dari kebutuhan manusia untuk mendukung aktivitas
sehari-hari secara efektif dan efisien. Sarana dan prasarana merupakan elemen
penting yang tidak hanya berfungsi sebagai penunjang kegiatan, tetapi juga
sebagai faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu program, baik dalam
bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, maupun pembangunan infrastruktur.
Tanpa adanya perencanaan yang matang, penyediaan sarana dan prasarana dapat
menjadi tidak tepat guna, sehingga menghambat pencapaian tujuan yang
diharapkan.
Selain itu, perkembangan jumlah
penduduk, pola aktivitas, serta tuntutan kualitas hidup yang semakin tinggi
mendorong pentingnya perencanaan sarana dan prasarana yang berkesinambungan.
Misalnya, pertumbuhan kota dan peningkatan mobilitas masyarakat memerlukan
pengelolaan transportasi publik, ruang terbuka, serta fasilitas umum yang
sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana
harus selaras dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat
memberikan manfaat maksimal serta menghindari pemborosan sumber daya.
Konsep
perencanaan sarana dan prasarana juga dilatarbelakangi oleh peran pemerintah dan berbagai
pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan yang teratur, aman, dan
berdaya saing. Melalui perencanaan yang terstruktur, dapat
ditentukan prioritas pembangunan, alokasi anggaran,
serta pemanfaatan lahan dan teknologi secara tepat. Dengan demikian,
perencanaan sarana dan prasarana tidak hanya sekadar penyediaan fasilitas
fisik, tetapi juga sebuah strategi jangka panjang untuk mendukung pembangunan
berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Latar belakang dari konsep perencanaan
sarana dan prasarana berawal dari kebutuhan manusia untuk memiliki fasilitas
yang mampu menunjang berbagai aktivitas, baik dalam bidang pendidikan,
kesehatan, transportasi, maupun pembangunan infrastruktur. Sarana dan prasarana yang direncanakan dengan baik akan
membantu meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta kualitas pelayanan bagi
masyarakat. Tanpa adanya perencanaan yang matang,
penyediaan sarana dan prasarana berpotensi tidak tepat sasaran, tidak termanfaatkan secara optimal, bahkan
dapat menimbulkan pemborosan sumber daya.
Selain itu, perkembangan jumlah
penduduk, urbanisasi, serta tuntutan akan peningkatan kualitas hidup
mendorong perlunya perencanaan sarana dan prasarana yang
lebih sistematis dan berkelanjutan. Perencanaan ini tidak hanya berfungsi
sebagai penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga sebagai strategi dalam
mengelola sumber daya, mengatur tata ruang, serta menetapkan prioritas pembangunan.
Dengan demikian, latar belakang perencanaan sarana dan prasarana sangat erat
kaitannya dengan upaya menciptakan lingkungan yang tertata, aman, serta mampu
mendukung pembangunan jangka panjang dan kesejahteraan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari konsep perencanaan
sarana dan prasarana berfokus pada bagaimana penyediaan fasilitas dapat sesuai
dengan kebutuhan, tujuan, serta perkembangan masyarakat. Permasalahan utama
biasanya muncul ketika terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan sarana dan
prasarana dengan jumlah pengguna, kurangnya efektivitas dalam pengelolaan,
serta minimnya perencanaan yang berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena
itu, rumusan masalah ini penting untuk memastikan agar perencanaan yang dibuat
tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi
juga mampu beradaptasi dengan dinamika jangka
panjang :
1. Bagaimana Hakikat
Perencanaan Sarana dan Prasarana?
2. Bagaimana Pentingnya Perencanaan Sarana dan Prasarana?
3. Bagaimana Substansi Perencanaan Sarana dan Prasarana?
4. Bagaimana Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah
yang Efektif?
5. Bagaimana Mekanisme Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Perencanaan Sarana dan Prasarana
Menurut Ibrahim Bafadal dalam bukunya
yang berjudul Manajemen Perlengkapan sekolah mendefinisikan perencanaan
perlengkapan sekolah sebagai “suatu proses
memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas sekolah, baik yang berbentuk
sarana maupun prasarana sekolah dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan
tertentu”.[1] Hal yang sama dikatakan oleh Wahyu Sri Ambar perencanaan sarana dan
prasarana sebagai “keseluruhan proses perkiraan secara matang rancangan
pembelian, pengadaan, rehabilitasi, distribusi
sewa atau pembuatan
peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan”.[2] Sedangkan Menurut Jame J. Jones “perencanaan sarana dan prasarana atau
perlengkapan pendidikan disekolah diawali dengan menganalisis jenis pengalaman
pendidikan yang diberikan di sekolah itu”.[3]
Berdasarkan pendapat para ahli diatas,
maka pemakalah dapat menarik kesimpulan bahwa perencanaan sarana dan prasarana
sekolah adalah suatu proses analisis dan penetapan kebutuhan yang diperlukan
dalam proses pembelajaran sehingga muncullah istilah kebutuhan yang diperlukan
(primer) dan kebutuhan yang menunjang. Tujuan
yang ingin dicapai
dengan perencanaan sarana dan prasarana tersebut
adalah untuk memenuhi
kebutuhan perlengkapan. Oleh
karena itu, keefektifan suatu perencanaan sarana dan prasarana sekolah tersebut
dapat dinilai atau dilihat dari seberapa jauh pengadaanya itu dapat memenuhi
kebutuhan perlengkapan di sekolah dalam periode tertentu. Apabila pengadaan sarana dan prasarana itu
benar-benar sesuai dengan kebutuhannya, berarti perencanaan sarana dan
prasarana sekolah itu benar-benar efektif.
Dalam menjalankan tugas pengelolaan
sarana dan prasarana, manusia dituntut untuk bekerja secara profesional, penuh
tanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan. Namun demikian, proses
pengelolaan sering kali dihadapkan pada tantangan, keterbatasan, dan kondisi
yang tidak ideal. Oleh karena itu, sebagai insan yang beriman, penting bagi
setiap pengelola sarana dan prasarana untuk menyandarkan usaha kepada Allah
SWT, sembari menjalankan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan penuh
ketelitian dan kesungguhan. Sebagai pengingat dan penguat hati dalam menghadapi
berbagai amanah dan tanggung jawab tersebut, Allah SWT berfirman dalam Surah
Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا
كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا
أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ
عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ
لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا
فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ "
Artinya
: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa:) "Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah
kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebuah
amanah, termasuk dalam manajemen sarana dan prasarana, diberikan bukan untuk
membebani, tetapi untuk dijalankan sesuai kemampuan manusia. Maka dari itu,
setiap proses perencanaan, pengadaan, pemeliharaan, hingga pengembangan sarana
dan prasarana perlu dilakukan dengan pendekatan profesionalitas, kejujuran, dan
perbaikan berkelanjutan. Dengan memohon ampunan, bimbingan, dan pertolongan
Allah SWT, diharapkan setiap langkah pengelolaan dapat memberikan manfaat yang
luas, meningkatkan kualitas layanan, serta menjadi amal jariyah yang bernilai
di sisi-Nya.
Dalam
proses perencanaan harus
dilakukan dengan cermat
dan teliti baik berkaitan dengan karakteristik sarana
dan prasarana yang dibutuhkan, jumlahnya, jenisnya dan kendalanya (manfaat yang
didapatkan), beserta harganya.
B. Pentingnya Perencanaan Sarana
dan Prasarana
Perencanaan dipandang penting dan
diperlukan bagi suatu organisasi antara lain dikarenakan :
1. Dengan adanya perencanaan diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi
pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditunjukan kepada pencapaian tujuan
pembangunan.
2. Dengan
perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam
masa pelaksanaan yang akan dilalui.
Perkiraan dilakukan mengenai
potensi-potensi perkembangan tetapi juga mengenai hambatan-hambatan dan
resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat diatasi sedini mungkin.
3. Perencanaan
memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara yang
terbaik.
4. Dengan
perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas, memilih urutan-urutan dari
segi pentingnya suatu tujuan, sasaran, maupun kegiatan usahanya.
5. Dengan
adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan
pengawasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.[4]
Hal yang sama dikatakan Soeparto M.
perencanaan diperlukan didalam organisasi bahwa rencana merupakan :
1. Alat efesiensi dan alat untuk mengurangi biaya.
2. Alat pengarahan kegiatan kepada pencapaian tujuan.
3. Pembentuk masa datang dengan
mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi seminimal
mungkin.
4. Alat-alat untuk
memilih alternatif cara terbaik atau kombinasi alternatif cara terbaik.
5. Alat penentuan skala prioritas dari pentingnya
suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan.
6.
Alat pengukur atau standar
untuk pengawasan dan penilaian.
Sedangkan manfaat perencanaan yaitu
“Dapat membantu dalam menentukan tujuan, meletakkan dasar-dasar dan menetapkan
langkah-langkah, menghilangkan ketidakpastian dan dapat dijadikan sebagai suatu
pedoman atau dasar untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan bahkan juga
penilaian agar nantinya kegiatan berjalan dengan efektif dan efisien”.[5]
C. Substansi Perencanaan Sarana
dan Prasarana
Substansi perencanaan sarana dan
prasarana terdiri dari tiga kata yaitu substansi perencanaan, substansi sarana
dan substansi prasarana.
1. Substansi perencanaan
Perencanaan bila dilihat dari waktunya
dibedakan menjadi tiga yaitu “Perencanaan jangka pendek, Perencanaan Jangka
menengah dan Perencanaan jangka panjang”.
a.
Perencanaan jangka pendek
Perencanaan jangka pendek yaitu
perencanaan tahunan atau perencanaan yang dibuat untuk
dilaksanakan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, sering disebut
sebagai rencana operasional. Perencanaan ini merupakan penjabaran dari rencana
jangka menengah dan jangka panjang.
b.
Perencanaan jangka menengah
Djokroamidjojo dan Mustopadidjaya
mengatakan bahwa perencanaan jangka menegah memberi cukup waktu untuk
memperhitungkan tingkat pelaksanaan rencana dan memperkirakan pemupukan
sumber-sumber pembiayaan pembangunan. Perencanaan jangka menengah mencakup kurun waktu
pelaksanaan 5 sampai 10 tahun. Perencanaan ini penjabaran dari rencana jangka
panjang, tetapi sudah lebih bersifat operasional.
c.
Perencanaan jangka panjang
Menurut Stoner dan Wankel perencanaan
jangka panjang merupakan suatu proses pemilihan tujuan, penentuan
kebijaksanaan, strategi, sasaran, dan program untuk mencapai tujuan jangka
panjang. Perencanaan jangka panjang meliputi cakupan waktu di atas 10 tahun
sampai dengan 25 tahun.[6]
2. Substansi Sarana
Sarana
atau fasilitas dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu “Failitas Fisik dan Fasilitas Uang”.
a.
Fasilitas Fisik
Fasilitas fisik yaitu segala
sesuatu yang berupa benda atau alat yang dapat dibendakan yang berfungsi untuk
memudahkan dan melancarkan suatu usaha. Contoh: Perabot Ruang Kelas, Perabot
Kantor, Alat- alat Pelajaran, Perabot
Laboratorium, dan lain sebagainya.
b.
Fasilitas Non
Fisik
Fasilitas non fisik yaitu sesuatu yang
bukan benda mati, atau kurang dapat disebut benda atau dibendakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan sesuatu usaha, seperti manusia, jasa dan uang. Sedangkan
bila tinjau dari fungsi dan peranannya dalam proses belajar mengajar,
maka sarana sekolah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu “Alat Pelajaran,
Alat Peraga, dan Media Pengajaran.
Dalam prakteknya, alat pelajaran, alat
peraga dan media pengajaran sering dicampur adukkan, disebabkan karena memang
wujud dari ketiganya kadangkadang sama. Sebuah benda mungkin dapat disebut
sebagai alat pelajaran sekaligus sebagai alat peraga,begitu pula benda lain pada suatu saat menjadi alat pelajaran tetapi disaat yang
lain berubah fungsi menjadi alat peraga.
Oleh karena itulah ketiga macam golongan tersebut akan diuraikan
masing-masing sehingga dapat dilihat perbedaannya.
1)
Alat Pelajaran
Alat pelajaran adalah alat atau benda
yang dipergunakan secara langsung oleh guru maupun murid dalam proses belajar
mengajar. Alat pelajaran dapat berupa buku-buku, baik buku-buku diperpustakaan
maupun buku yang terdapat dikelas sebagai buku pegangan guru ataupun buku
pelajaran untuk murid, alat-alat praktek yang terdapat didalam laboratorium,
alat-alat olahraga maupun kesenian, alat tulis menulis dan sebagainya.
Penggunaan alat pelajaran
ini dapat digunakan oleh banyak murid secara bersama-sama atau kelompok, seperti papan tulis,
bola dan sebagainya. Sedangkan alat- alat dapat dibagi atas beberapa kelompok
menurut bidang studi yang terdapat dalam kurikulum suatu sekolah, misalnya
alat-alat untuk pelajaran Matematika, IPA, IPS, Kesenian, Olahraga, Agama, Bahasa
dan Keterampilan.
2)
Alat Peraga
Alat peraga adalah “alat yang digunakan
oleh pengajar untuk mewujudkan atau mendemonstrasikan bahan pelajaran guna
memberikan gambaran yang jelas
tentang pelajaran yang
diberikan”.
Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa alat peraga adalah sebuah alat bantu yang fungsinya
antara lain mempermudah tenaga pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya sehingga dapat dimengerti.
Dilihat dari cara penggunaannya, alat peraga dapat dibedakan menjadi: Alat peraga langsung yaitu
alat peraga yang terdiri
atas benda aslinya, pengalaman sendiri dan alat peraga yang melalui
benda yang sebenarnya yang dapat dikenal segala macam
aspeknya dan alat peraga tidak langsung, yaitu alat-alat peraga yang
pemakaiannya tidak menggunakan benda-benda aslinya, tetapi dengan menggunakan
cara lainnya.
3)
Media Pengajaran
Menurut Marshall Mcluhan, yang dikutip
oleh Harjanto bahwa media adalah “suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya
untuk mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia”.
Dengan adanya media pendidikan maka
fungsi dan peranannya bukan sekedar membantu proses belajar mengajar saja,
tetapi dapat juga digunakan untuk mengantikan kehadiran guru didepan kelas.
Yang termasuk kedalam media pengajaran adalah alat-alat yang digunakan dalam
pengajaran umumnya, antara lain buku-buku. Akan tetapi, sesuai dengan
perkembangan teknologi, yang dimasukan kedalam media pendidikan
hanyalah alat-alat pelajaran yang bersifat elektronis saja. Media pengajaran dapat
digolongkan menjadi tiga bagian
yaitu : “a). Media audio (media untuk
pendengaran), b). Media visual (Media untuk pengelihatan),
dan c). Media Audio visual (media untuk pendengaran dan penglihatan)”. Ketiga media ini
merupakan sebagai alat bantu untuk memudahkan guru dalam menyampaikan
materi pelajaran. Dari keseluruhan jenis-jenis sarana tersebut, hal yang paling
penting adalah bagaimana mengatur sarana yang ada menjadi sumber daya materiil
yang bermanfaat bagi proses pencapaian tujuan pendidikan.[7]
Sedangkan bila ditinjau dari sifat
barangnya, sarana dapat dibedakan menjadi dua yaitu” Sarana sekolah yang
bergerak dan Sarana sekolah yang tidak bisa bergerak”.
1) Sarana sekolah
yang bergerak
Sarana sekolah yang bergerak yaitu
sarana sekolah yang bisa digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan
pemakainya. Contoh : Almari
arsip sekolah, Bangku sekolah dan sebagainya. Sarana
sekolah yang bergerak dikelompokan menjadi:
a) Sarana sekolah yang habis dipakai. Sarana sekolah yang habis dipakai
yaitu segala bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu
yang relatif singkat. Contoh : Kapur tulis atau spidol yang biasa digunakan oleh guru dan siswa dalam
pembelajaran, bahan kimia yang sering digunakan oleh seorang guru dan siswa
dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
b)
Sarana sekolah yang tahan lama (tak habis pakai)
Sarana sekolah yang tahan lama (tak habis pakai)
yaitu keseluruhan bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus menerus dan
dalam waktu yang relatif lama. Seperti: Kursi,
meja, papan tulis
dan sebagainya.
2) Sarana Sekolah yang tidak bisa bergerak.
Sarana
Sekolah yang tidak
bisa bergerak yaitu semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan.
Contoh: Suatu sekolah yang telah memiliki saluran dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Semua peralatan yang berkaitan
dengan itu, seperti pipanya yang relatif tidak mudah untuk dipindahkan ke
tempat- tempat tertentu.
c.
Substansi Prasarana
Ary H.Gunawan mengklasifikasikan
prasarana sekolah menjadi dua macam yaitu “Prasarana sekolah yang secara
langsung digunakan untuk proses belajar mengajar dan prasarana sekolah yang
keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar”.16
1) Prasarana sekolah yang secara
langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang
perpustakaan, ruang praktik keterampilan, dan ruang laboratorium.
2) Prasarana
sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar,
seperti ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar
kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru,
ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.[8]
D.
Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah yang Efektif
Perencanaan yang efektif adalah ketika
apa yang dirumuskan ternyata dapat direalisasikan dan mencapai tujuan yang
diharapkan. Perencanaan yang tidak
efektif adalah ketika apa yang telah dirumuskan dan ditetapkan ternyata tidak berjalan dalam implementasi,
sehingga tujuan organisasi menjadi tidak terwujud. Untuk mengetahui apakah perencanaan itu efektif
atau tidak dapat dijawab melalui
pertanyaan-pertanyaan dasar
perencanaan yaitu “What, Where, When,
How, Who, Why”.17
Berikut ini masing- masing penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan dasar perencanaan
diantaranya :
1. What (apa)
Kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
2. Where (Dimana)
Dimana kegiatan hendak dilaksanakan. Where adalah mengenai dimana kegiatan
tersebut akan dilaksanakan. Pertanyaan ini mencakup tata ruang
yang disusun, tempat yang akan digunakan,
tempat perhimpunan alat-alat serta perlengkapan lainnya.
3. When (Kapan)
When
adalah kapan kegiatan tersebut akan dilaksanakan dan
kapan kegiatan tersebut harus dimulai dan diakhiri. Hal ini berarti harus
tergambar sistem prioritas yang akan digunakan, penjadwalan waktu, target,
fase-fase tertentu yang akan dicapai serta hal-hal lain yang berhubungan dengan
faktor waktu. Rencana kebutuhan dibuat untuk jangka waktu pendek, menengah dan
panjang.
4. How (Bagaimana)
Bagaimana cara melaksanakan kegiatan
kearah tercapainya tujuan? Yang dicakup pertanyaan ini menyangkut sistem kerja,
standar yang harus dipenuhi, cara pembuatan,dan penyampaian laporan, cara
menyimpan dan mengolah dokumen-dokumen yang timbul sebagai akibat pelaksanaan.
5. Who (Siapa)
Pertanyaan who terkait dengan siapa yang akan melaksanakannya. Berarti dalam
hal ini siapa yang bertanggung jawab atas kegiatan yang akan dilaksanakan.
6. Why (Mengapa)
Pertanyaan Why terkait dengan pertanyaan seputar mengapa tujuan tersebut
harus dicapai dan mengapa kegiatan
yang terumuskan dalam jawaban
atas pertanyaan What perlu dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut.[9]
Sedangkan Husaini Usman mengatakan agar
perencanaan menghasilkan rencana yang baik, konsisten dan realistis maka
kegiatankegiatan perencanaan memerhatikan :
1. Keadaan
sekarang (tidak dimulai dari nol, tetapi dari sumber daya yang sudah ada).
2. Kebersihan dan faktor-faktor kritis
kebersihan.
3. Kegagalan masa lampau.
4. Potensi, tantangan, dan kendala yang ada.
5. Kemampuan
merubah kelemahan menjadi kekuatan, dan ancaman menjadi peluang analisis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats atau SWOT).
6.
Mengikutsertakan
pihak-pihak terkait.
7.
Memerhatikan komitmen dan mengkoordinasikan pihak-pihak terkait.
8. Mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi, demokratis, transparan, realistis, dan praktis.
9. Jika mungkin
mengujicobakan kelayakkan perencanaan.
Perencanaan sarana dan prasarana yang efektif adalah kepala
sekolah serta wakil kepala sekolah
yang membidangi sarana
dan prasarana melibatkan guru untuk bekerjasama
dalam upaya mengefektifkan program sekolah, dan memprakarsai program perubahan
melalui usaha kolektif bersama guru dengan garis besar tujuan yang telah ditentukan. Selain
kepala sekolah selaku administrator sekolah bertanggung jawab atas sarana dan prasarana, guru juga dituntut
untuk memikirkan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah. Perencanaan sarana dan prasarana
menuntut keterlibatan guru karena semua barang yang dipergunakan dalam proses
belajar mengajar harus sesuai dengan rancangan kegiatan belajar mengajar.[10]
E.
Mekanisme Perencanaan Sarana dan Prasarana Sekolah
Suatu kegiatan manajemen yang baik harus
diawali dengan suatu perencanaan yang matang dan baik pula demi menghindari
kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan. Perencanaan adalah suatu proses
memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai
tujuan tertentu. Kebutuhan akan sarana dan prasarana di sekolah haruslah
direncanakan. Sebagai manajer pendidikan, kepala sekolah haruslah mempunyai
proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana untuk jangka panjang, jangka menengah,
jangka pendek.
Proyeksi kebutuhan akan sarana
dan prasarana sekolah
dibuat dengan
mempertimbangkan dua aspek, ialah kebutuhan aspek pendidikan di satu pihak dan
kemampuan sekolah di pihak lain. Perencanaan sarana dan prasarana sekolah yang
dikerjakan oleh tenaga perencana sekolah, akan dapat menggambarkan perencanaan
sarana dan prasarana yang baik dan akuntabel, maka sekolah sebagai institusi
pendidikan dalam membangun sumberdaya manusia akan dapat mencapai tujuan
sekolah. Sesuai dengan fokus pemakalahan yang telah diuraikan pada Bab
sebelumnya, maka penulis disini akan memfokuskan bahasan mengenai:[11]
1.
Penetapan orientasi dalam perencanaan sarana dan prasarana sekolah.
2.
Analisis rencana kebutuhan dalam perencanaan sarana dan
prasarana sekolah.
3.
Penetapan program kebutuhan sarana dan prasarana
dalam perencanaan sarana dan prasarana sekolah.
4.
Kendala dan upaya dalam proses perencanaan sarana dan prasarana sekolah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulannya, hakikat perencanaan
sarana dan prasarana adalah proses sistematis untuk menentukan kebutuhan,
tujuan, serta langkah- langkah strategis dalam penyediaan fasilitas yang
mendukung berbagai kegiatan. Pentingnya perencanaan ini terletak pada perannya
dalam memastikan ketersediaan sarana
dan prasarana yang tepat guna,
efektif, serta efisien,
sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan baik di bidang pendidikan maupun
pembangunan masyarakat secara umum.
Substansi dari perencanaan ini menekankan pada kesesuaian antara
kebutuhan, kemampuan sumber daya,
serta tujuan yang ingin dicapai
agar fasilitas yang disediakan benar-benar bermanfaat.
Dalam konteks sekolah,
perencanaan sarana dan prasarana yang efektif harus memperhatikan relevansi
dengan kebutuhan pembelajaran, keterjangkauan, serta daya dukung terhadap
perkembangan peserta didik. Mekanisme perencanaannya meliputi identifikasi
kebutuhan, penentuan prioritas, penyusunan rencana kerja, hingga evaluasi
secara berkala agar fasilitas yang ada selalu sesuai dengan perkembangan
kurikulum dan teknologi. Dengan mekanisme yang jelas, sarana dan prasarana
sekolah dapat dimanfaatkan secara optimal, menunjang kualitas pendidikan, serta
memberikan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa dan tenaga pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Mardiah, Icha Suryana, Putri Dea Novita, Emiliya Emiliya, Lina
Sari, and Rani Oktapiani. “Perencanaan Sarana Dan Prasarana Pada Lembaga
Pendidikan.” Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Budaya
1, no. 4 (2023): 1–12.
Boko, Yusri A.
“Perencanaan Sarana Dan Prasarana (Sarpras) Sekolah.” Jurnal Pendidikan Dan
Ekonomi (JUPEK) 1, no. 1 (2020): 44–52.
Indrawan, Irjus. Pengantar
Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah. Deepublish, 2015.
Jamil, Fatkhur
Rohman, and Akhmad Ramli. “Konsep Dasar Administrasi Pendidikan, Fungsi Dan
Ruang Lingkupnya,” 2023.
Nugroho, Agung, and
Ade Evriansyah Lubis. “Manajemen Pengelolaan Sarana & Prasarana
Keolahragaan.” JSH: Journal of Sport and Health 3, no. 2 (2022): 40–53.
Parid, Miptah, and
Afifah Laili Sofi Alif. “Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan.” Tafhim
Al-’Ilmi 11, no. 2 (2020): 266–75.
Rohiyatun, Baiq, and
Luluin Najwa. “Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Di PAUD.” Jurnal Visionary:
Penelitian Dan Pengembangan Dibidang Administrasi Pendidikan 9, no. 1
(2021): 1–5.
Sa’ud, Udin
Syaefudin, and Abin syamsuddin Makmun. “Perencanaan Pendidikan: Suatu
Pendekatan Komprehensif,” 2007.
Suranto, Dwi Iwan,
Saipul Annur, and Afif Alfiyanto. “Pentingnya Manajemen Sarana Dan Prasarana
Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.” Jurnal Kiprah Pendidikan 1, no. 2
(2022): 59–66.
SYAHPUTRI, FINA.
“Konsep Manajemen Sarana Prasarana Dan Keuangan Anak Usia Dini,” n.d.
Yulyanti, Depi, S
KM, and M KES. “KONSEP DASAR.” Perencanaan Dan Evaluasi Kesehatan 2024,
2024, 233.
Komentar
Posting Komentar